Khataman Al-Qur'an (Budaya Islam)

Diposkan oleh On 8:02 AM

Khatam Al-Qur’an memang telah menjadi target utama tadarus pada bulan suci Ramadlan tahun 1434 Hijriyah, tidak terkecuali kegiatan membaca Ayat Suci Al-Qur’an yang dilakukan oleh masyarakat desa Tawangrejo yang terpusat di Masjid Jami’ At-Taqwa. Mereka mentargetkan dua kali khatam, khatam pertama sekedar do’a khotmil Qur’an, namun untuk khatam yang kedua sedikit berbeda, ada ritual kecil yang telah menjadi budaya yang ada di masjid yang tergolong tua ini yaitu adanya ambengan. 


Ambengan adalah paket yang terdiri dari nasi, oseng-oseng, gorengan-gorengan dan ada sepotong lauk berupa daging ayam atau daging sapi atau sejenis ikan laut maupun tambak. Ambengan ini telah dibuat masyarakat secara sukarela dan dikumpulkan di masjid hanya untuk acara tersebut, tidak dipatok berapa jumlahnya dan banyaknya yang
penting ada. Walaupun sederhana tetap ada serangkaian acara yang harus diikuti. Secara otomatis ada beberapa personil yang bertugas dalam mengisi rangkaian acara tersebut. Ada pembawa acara yang ditugaskan yaitu bpk Ali Fathan, ada pembacaan khotmil Qur’an yang dibebankan pada Ustadz Jalaluddin Al-Hafdz sekalian doanya dan disambung kepung ambengan. Kepung ambengan yaitu ambengan satu dikelilingi sekitar 4 sampai 5 orang utnuk dibagi sama rata, jika misalnya ikannya Cuma satu maka ikannya dibagi 4 sama rata. Begitu pula lauk yang lainnya. Kemudian masing-masing bisa membawa pulang ambengan yang sudah dibagikan tadi untuk oleh-oleh anggota keluarga yang ada dirumah, jadi ambengan tersebut tidak dinikmati dimasjid tapi dibawa pulang kerumah masing-masing.

Tradisi khataman ini juga biasa disebut maleman yang terkandung maksud sebagai malam terakhir diselenggarakannya tadarus Al-Qur’an, sebab kegiatan ini memang dikhususkan pada bulan Ramadlan. Untuk hari yang lain belum dibiasakan, harapannya adalah setiap hari walaupun diluar bulan suci Ramadlan kegiatan ini tetap berjalan, namun saat ini belum dimulai. Tradisi khataman ini juga dilakukan sejumlah kelompok-kelompok pemuda yang mengatas namakan santri tawangrejo dengan nama IKSATA, ikatan santri Tawangrejo membuat tradisi serupa, namun dilaksanakan sebelum khataman yang diselenggarakan di Masjid, alasannya adalah selain bisa khataman sendiri, mereka juga bisa ikut khataman di Masjid. Kegiatan santri ini sedikit berbeda, biasanya tadarusan dilaksanakan di Masjid namun kali ini mereka menawarkan jadwal tadarus dirumah anggota ikatan tersebut , jika tidak ada maka akan ditawarkan pada masyarakat umum yang berdomisili di desaTawangrejo.

Tradisi-tradisi yang telah ada memang perlu mendapat perhatian khusus agar tradisi tersebut tidak akan punah. Selama masih ada seseorang yang gigih mempertahankan tradisi tersebut, insyaAllah itu semua akan berjalan seperti biasa walaupun hanya dipelopori oleh beberapa orang.


Berikut beberapa momen-momen yang berhasil penulis dokumentasikan sebagai inspirasi bagi semua orang dan pengobat kerinduan bagi perantau yang jarang pulang di desa Tawangrejo. Bagi siapa saja bisa mengirimkan artikel mengenai apapun yang bisa menginspirasi banyak orang mengenai budaya, seni, ilmu pengetahuan, kajian kitab untuk saya abadikan dalam blog ini. Terima kasih

Sebelum acara dimulai para peserta hadir dan berbaris membentuk formasi melingkar

Doa Khotmil Qur'an sedang dibacakan 
Peserta penuh hingga sampai pada teras masjid, luar biasa...

Do'a khotmil Qur'an dibacakan oleh Jalaluddin, S.HI

Setelah Berdoa, maka ambengan siap untuk dibagi maksimal 5 orang

Tanpa ditimbang dan diukur, ambengan langsung dibelah jadi 4 bagian... dikiro-kiro..

Kowe wis entuk?... aku durung mas.. umani yo..

Yo ... iyo... ojo watir, iki mau wong sak tawung do nggowo ambengan kabeh...

Arep tak emplok iwake aku isin karo Yi Ahsin.. Piye ngeniki...?

Akhirnya dapet juga... yo keno dienggo nggugah sing nong omah.

Dibagi lodehane dulu, dibagi iwake dulu, trus baru dibagi segane.

Aku tak amek dewe segane yo? 

Yo iki bagiane sing Up-LOAD foto.. lumayan..

Petengan Thoha membagi nasi dengan di kruwek

Jo watir, aku mau wis ijuk sik sak durunge ngkruuuwwek

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »