Lebih Baik Berteman dengan Orang Bodoh daripada Berteman dengan Orang Alim

Diposkan oleh On 4:03 PM

Lebih Baik Berteman dengan Orang Bodoh daripada Berteman dengan Orang  Alim
PAK VINDRA | Berteman dengan siapapun pastinya akan menambah keceriaan dalam hidup kita karena ada tempat berbagi dan bercerita. Namun demikian memilih teman harus benar-benar selektif tidak boleh asal ambil teman. Namun teman yang baik adalah teman yang mengerti akan kehidupan kita. Teman yang perduli dengan perasaan kita. Teman seharusnya senantiasa memberikan kenyamanan dalam hidup, tidak hanya kasih sayang, namun juga perhatian yang luar biasa.

Nilai positif berteman dengan orang bodoh

Namun jika dihadapkan dengan pilihan, mana yang akan kalian pergauli tipe teman berikut ini, apakah memilih teman yang bodoh atau memilih teman yang pandai. Jawabanya pasti akan bervariasi dan banyak interpretasi. Ada yang mengatakan lebih baik berteman dengan yang bodoh. Alasan positifnya adalah, berteman dengan yang bodoh, berarti kita bisa memanfaatkan ilmu kita untuk kita tularkan pada mereka, dengan metode yang terkesan tidak menggurui. Mereka yang bodoh adalah aset kita untuk manfaat ilmu yang kita miliki. Kita dihadirkan oleh ALLah untuk mereka, agar mereka bisa seperti kita. Pertanyaannya adalah apakah kita memiliki kapabilitas untuk mengamalkan ilmu kita. Tentunya yang kita bidik disini adalah ilmu agama. Artinya, apakah kita sudah mumpuni terhadap ilmu agama yang kita miliki? Jika tidak, lantas apa manfaat kita? Maka situasi seperti yang terurai diatas hanya cocok pada siapa saja yang memang telah belajar banyak tentang ilmu agama dan menularkannya. Dengan kata lain cocok bagi yang sudah pintar tentang agama.

Nilai positif berteman dengan orang yang pandai

Berteman dengan orang yang pandai apakah ada masalah? Keinginan seseorang berteman dengan siapapun tentunya ada manfaat yang ingin didapat. Berteman dengan orang pandai, nilai positif yang bisa diambil adalah kita akan mendapatkan ilmu ilmu baru dalam agama. Contoh saja, kita berteman dengan para kyai dan para santri, kalau kita mampu memanfaatkannya maka ilmu kita setiap saat bisa bertambah karena solusi selalu didapat dari orang yang pandai tersebut. Secara otomatis kita bisa mendapakan ilmu yang mereka miliki. Asalkan kita mau bertanya dan berkomunikasi, maka kita akan mendapatkan banyak ilmu. Situasi ini sangat cocok bagi orang yang sedang belajar agama.

Kalau ada nilai positif berarti ada nilai negatif

Secara spesifik kami tidak bisa menguraikan secara rinci keburukannya, sebab disini hanya memberikan informasi mengenai kasus tertentu yang sebaiknya dihindari. Baiklah akan kami uraikan mengenai berteman dengan orang bodoh atau orang pintar.
Perhatikan maqolah yang diungkapkan oleh Syech Ibnu Atthoillah berikut ini:
وَلَأَنْ تَصْحَبَ جَاهِلًا لَا يَرْضٰى عَنْ نَفْسِهِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أنْ تَصْحَبَ عَالِمًا يَرْضٰى عَنْ نَفْسِهِ.
فَأَيُّ عِلْمٍ لِعَالِمٍ يَرْضٰى عَنْ نَفْسِهِ وَأَيُّ جَهْلٍ لِجَاهِلٍ لَا يَرْضٰى عَنْ نَفْسِهِ.

Artinya : Engkau bersahabat dengan orang bodoh tetapi tidak mengikuti hawa nafsunya, lebih baik bagi kamu daripada engkau bersahabat dengan orang alim, tetapi suka mengikuti hawa nafsunya.

Tak mungkin ilmu itu dimiliki orang alim, apabila ia menyenangi hawa nafsunya, dan dimana letak kebodohan orang bodoh yang tidak menuruti nafsunya.

Penyebab Keburukan Berteman dengan Orang ALim

Ternyata yang menjadi keburukan dalam hal ini adalah hawa nafsu. Memang yang paling sombong biasanya adalah orang alim karena keilmuannya. Namun apakah benar ia dikatakan orang alim sedangkan dia berperilaku sombong, tidak memiliki akhlaq yang baik. Apakah orang seperti ini perlu kita jadikan teman? Tentu jawabannya adalah tidak. Lebih baik berkawan dengan orang bodoh yang memiliki akhlaqul karimah.

Nabi Muhammad memberikan ilustrasi dan ibarat yang bisa saya simpulkan demikian, jika dekat dengan tukang besi maka kita akan terkena asap dan mengenai tenggorokan sehingga membuat pernafasan kita sesak, namun jika dekat dengan penjual minyak maka kita akan ikut menghirup wanginya.
Lebih baik lagi bisa bergaul dengan orang alim yang menjaga kesholehannya. Berkawan dengan orang alim yang memiliki sopan santun, serta tutur kata yang lembut akan membawa kita pada wanginya kesholehan yang ditebarkannya.

Apa yang harus Kita Waspadai?

Maka kita semua harus waspada jika bergaul dengan siapapun. Jangan sampai pergaulan kita menghambat perjalan kita menuju makrifat dan kesholehan serta keihsanan. Jika kita mampu menempatkan diri dalam pergaulan yang baik maka tidak akan mempengaruhi perjalanan menuju maqam makrifat. Jika demikian kita memiliki kita akan diberikan kekuatan oleh Allah subhanahu wata’ala dengan do’a, dzikir, dan sedekah mendampingi ibadah wajib lainnya.

Untuk mendapatkan ridlo Allah Subhanahu Wata’ala dunia akherat, maka hendaklah seorang hamba harus melakukan riyadlah dan mujahadah terus menerus sehingga dapat mencapai maqam makrifat yang sejati. Semoga kita selalu diberi kekuatan oleh Allah Subhanahu Wata’ala agar benar-benar bisa dekat dengan-NYA amin.

Source : Hikam (Ibnu At-Thoillah)



Next
« Prev Post
Previous
Next Post »